Masuknya China ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) pada 2001 menjadi titik balik penting dalam sistem ekonomi global.
China tidak hanya menjadi bagian dari pasar dunia, tetapi dengan cepat berkembang menjadi pusat manufaktur global.
Negara-negara Barat memperoleh keuntungan dari biaya produksi murah, sementara China mengakumulasi kekuatan ekonomi dalam skala besar.
Pertumbuhan ini tidak hanya bersifat ekonomi. Dengan surplus perdagangan dan cadangan devisa besar, China mulai berinvestasi dalam infrastruktur, teknologi, dan militer.
Proyek-proyek besar, baik di dalam negeri maupun luar negeri, memperluas pengaruh Beijing secara perlahan namun sistematis.
Bagi Amerika Serikat dan sekutunya, kebangkitan China awalnya dipandang sebagai peluang ekonomi. Namun seiring waktu, ketergantungan rantai pasok global pada China justru menimbulkan kekhawatiran strategis.
Persaingan tidak lagi terbatas pada perdagangan, tetapi merambah ke teknologi, standar industri, dan pengaruh politik.
Laut China Selatan menjadi salah satu titik gesekan utama. Klaim wilayah, pembangunan pulau buatan, dan peningkatan aktivitas militer menimbulkan ketegangan dengan negara-negara tetangga serta Amerika Serikat.
Konflik belum meletus secara terbuka, tetapi intensitasnya terus meningkat.
Pada periode ini, dunia memasuki fase persaingan struktural baru.
China belum menjadi lawan militer langsung Barat, tetapi telah menjadi pesaing sistemik dalam ekonomi dan teknologi. Gesekan ini menjadi fondasi konflik yang berkembang pada dekade berikutnya.