Semua orang hari ini sibuk bertahan hidup.
Kerja lebih keras.
Pikir lebih cepat.
Kejar lebih jauh.
Tidak ada yang salah dengan itu.
Yang jadi pertanyaan adalah:
di tengah semua pengejaran ini, siapa yang menjaga kemanusiaan kita?
Kita Berlomba Hidup, Tapi Pelan-Pelan Kehilangan Rasa
Hidup sekarang seperti lomba tanpa garis akhir.
Siapa berhenti sebentar, takut tertinggal.
Siapa melambat, dianggap gagal.
Akhirnya kita:
Tidak sempat mendengar
Tidak sempat peduli
Tidak sempat bertanya kabar
Bukan karena kita kejam,
tapi karena hidup dibuat terlalu sempit untuk menjadi manusia utuh.
Dunia Menghargai Hasil, Bukan Proses Menjadi Manusia
Yang dihitung hari ini angka.
Target.
Pencapaian.
Tidak ada kolom untuk:
Apakah kamu masih jujur
Apakah kamu masih peduli
Apakah kamu masih punya empati
Padahal bangsa ini dulu besar karena manusia, bukan angka.
Indonesia Tidak Dibangun oleh Orang-Orang yang Egois
Negeri ini lahir dari orang-orang yang:
Berbagi meski kekurangan
Berjuang meski tidak dikenal
Bertahan tanpa pamrih
Kalau hari ini semua hanya mengejar hidup masing-masing,
lalu siapa yang menjaga nilai yang menyatukan kita?
Mengejar Hidup Tidak Boleh Mengorbankan Nurani
Tidak salah ingin hidup lebih baik.
Tidak salah ingin aman.
Tidak salah ingin berhasil.
Yang berbahaya adalah saat:
Menginjak demi naik
Diam demi aman
Membenarkan yang salah demi untung
Saat itu, kita mungkin hidup,
tapi kehilangan arah.
Kita Indonesia Tidak Pernah Diajarkan Jadi Serigala
Orang tua kita mengajarkan:
Jangan menyakiti
Jangan mengambil hak orang
Jangan lupa adab
Nilai-nilai itu bukan penghambat kemajuan.
Justru penjaga agar kemajuan tidak berubah jadi kebuasan.
Kalau Bukan Kita, Lalu Siapa?
Kalau semua sibuk mengejar hidup,
dan tidak ada yang mau menjaga kemanusiaan,
maka yang runtuh bukan cuma hubungan sosial
tapi jati diri bangsa.
Menjaga kemanusiaan bukan tugas negara saja.
Itu tugas setiap orang yang masih punya hati.
Kita Indonesia, Jangan Kehilangan Diri
Kalau hari ini kamu masih:
Memilih jujur meski berat
Menolong meski tidak diminta
Menahan diri meski bisa membalas
Kamu sedang menjaga sesuatu yang besar,
meski terlihat kecil.
Karena bangsa ini tidak akan hancur oleh orang yang gagal,
tapi oleh orang yang lupa caranya menjadi manusia.