Viral Post – Nama Dedi Mulyadi hampir selalu muncul ketika perbincangan tentang kebangkitan simbol budaya Sunda dalam politik mengemuka. Dari salam sampurasun, penggunaan iket Sunda, hingga narasi spiritualitas Tatar Pasundan, semuanya menjadi bagian dari identitas politik yang ia bangun.
Namun tidak semua kalangan budaya memandang fenomena tersebut dengan cara yang sama.
Tokoh muda Sunda Harry Gumbara dalam sebuah wawancara di YouTube menyampaikan kritik tajam. Ia menilai budaya Sunda seharusnya tidak dijadikan alat politik.
Menurutnya, budaya Sunda merupakan ruh spiritual yang tidak bisa sekadar dipakai sebagai strategi elektoral.
“Sunda itu jiwa saya. Cara saya menyampaikan diri kepada Tuhan. Bukan alat politik,” kira-kira begitu inti pandangan yang disampaikan Harry.
Selain itu, ia juga menyoroti penggunaan seni tradisional seperti Wayang Golek dalam sejumlah penampilan Dedi Mulyadi. Harry menilai beberapa pertunjukan tersebut dianggap merusak alur cerita (lalakon) yang selama ini mengikuti pakem budaya dan memiliki nilai sakral.
Meski begitu, kritik tersebut juga disertai pengakuan. Harry tidak menampik bahwa Dedi Mulyadi berhasil membuat budaya Sunda kembali ramai diperbincangkan di ruang publik.
Ia bahkan mengakui bahwa pendekatan politik Dedi mampu menghubungkan budaya dengan kekuasaan publik,sesuatu yang jarang dilakukan sebelumnya.
Fenomena ini memunculkan perdebatan baru: apakah langkah tersebut merupakan bentuk pelestarian budaya, atau sekadar strategi branding politik?
Jawabannya mungkin tidak sederhana.
Di satu sisi, budaya memang tidak boleh kehilangan kesakralannya. Namun di sisi lain, budaya juga membutuhkan ruang hidup di tengah masyarakat modern.
Dan dalam banyak kasus, politik disadari atau tidak ,sering menjadi panggung terbesar yang membuat sebuah budaya kembali terlihat.
Oleh : Syafaq Ahmar