GENERASI INI DISURUH TINGGAL DI MANA?
Dulu rumah adalah tujuan. Sekarang rumah terasa seperti garis finish yang terus dipindahkan lebih jauh setiap kali kita mendekat.
Banyak orang bekerja belasan tahun dengan harapan sederhana, punya tempat tinggal sendiri.
Namun setiap kali tabungan mulai terkumpul, harga rumah sudah melonjak lagi, seperti bayangan yang tak pernah bisa disentuh.
Secara kasat mata, masalah ini sering disederhanakan. Katanya generasi sekarang kurang sabar, terlalu banyak maunya, atau salah memilih prioritas.
Padahal realitanya jauh lebih kompleks. Dalam satu dekade terakhir, kenaikan harga properti di banyak kota jauh melampaui kenaikan gaji.
Data kasar menunjukkan harga rumah bisa naik dua sampai tiga kali lipat, sementara upah hanya naik bertahap dan sering tidak mengejar inflasi.
Selisih ini menciptakan jurang yang makin sulit dilompati.
Rumah tidak lagi sekadar tempat tinggal, tetapi berubah menjadi instrumen investasi.
Ketika properti diperlakukan sebagai aset untuk menyimpan dan menggandakan kekayaan, maka logika pasar bergeser. Harga ditentukan bukan oleh kemampuan beli pekerja, melainkan oleh daya beli investor.
Akibatnya, rumah-rumah dibangun bukan untuk dihuni, tetapi untuk disimpan. Yang butuh tempat tinggal justru tersingkir oleh mereka yang membeli untuk spekulasi.
Di sisi lain, generasi pekerja dihadapkan pada biaya hidup yang terus naik. Sewa mahal, transportasi mahal, kebutuhan dasar mahal.
Menabung untuk uang muka rumah terasa seperti mengisi ember bocor.
Setiap bulan ada saja kebutuhan yang menggerus simpanan. Ketika akhirnya memilih kredit jangka panjang, beban cicilan menjadi risiko seumur hidup, bukan lagi solusi aman.
Pertanyaan “disuruh tinggal di mana” bukan keluhan manja, melainkan cermin dari kegagalan sistem perumahan.
Selama rumah lebih dilihat sebagai komoditas daripada kebutuhan dasar, banyak orang akan terus bekerja tanpa pernah merasa dekat dengan kata memiliki.
Ini bukan soal generasi malas atau kurang berjuang. Ini soal sistem yang membuat tempat tinggal berubah dari hak menjadi kemewahan.