Di saat dunia makin individualistis,
gotong royong sering dianggap kuno.
Dibilang tidak relevan.
Dibilang kalah oleh zaman.
Padahal justru sebaliknya:
gotong royong adalah kekuatan terakhir yang belum bisa dikalahkan sistem apa pun.
Indonesia Tidak Dibangun oleh Orang-Orang Hebat Sendirian
Negeri ini tidak lahir dari segelintir orang kuat.
Indonesia berdiri karena kebersamaan.
Karena saling menolong saat tak ada apa-apa.
Dari desa sampai kota,
yang membuat kita bertahan bukan uang,
tapi rasa “kita”.
Individualisme Membuat Kita Cepat, Tapi Rapuh
Budaya “urus diri sendiri” memang terlihat efisien.
Cepat.
Praktis.
Tapi rapuh.
Saat krisis datang,
yang bertahan bukan yang paling pintar,
tapi yang punya jaringan kepedulian.
Dan gotong royong adalah jaringan itu.
Gotong Royong Bukan Tentang Gratisan
Banyak yang salah paham.
Gotong royong bukan berarti tidak profesional.
Bukan berarti anti kemajuan.
Bukan berarti kerja tanpa nilai.
Gotong royong adalah:
Berbagi beban
Menguatkan yang lemah
Mengangkat yang tertinggal
Itu bukan romantisme masa lalu.
Itu strategi bertahan hidup bangsa.
Dunia Luar Justru Mengagumi Nilai Ini
Saat bangsa lain terpecah oleh ego,
Indonesia punya modal sosial yang langka.
Banyak peneliti, jurnalis, dan pengamat luar
mengakui:
solidaritas masyarakat Indonesia adalah aset besar.
Yang sering lupa justru kita sendiri.
Kalau Gotong Royong Hilang, Indonesia Jadi Biasa Saja
Tanpa gotong royong,
Indonesia hanya negara besar tanpa jiwa.
Teknologi bisa dibeli.
Ilmu bisa dipelajari.
Modal bisa dicari.
Tapi rasa peduli satu sama lain
tidak bisa diimpor dari luar negeri.
Ini Bukan Nostalgia, Ini Peringatan
Gotong royong bukan cerita kakek-nenek.
Ini peringatan untuk generasi sekarang.
Kalau kita memilih ego,
kita akan kuat sendiri tapi lemah bersama.
Dan bangsa yang lemah bersama
akan mudah dipecah.
Gotong Royong Adalah Identitas, Bukan Pilihan
Indonesia bukan sekadar wilayah.
Indonesia adalah perjanjian batin:
aku tidak hidup sendiri.
Selama gotong royong masih hidup,
Indonesia belum kalah.