Gaya Kepemimpinan KDM: “Galak tapi Ngasih”

Oleh: Syafaq Ahmar

Saya pernah berpikir begini.
Kenapa ada pemimpin yang sangat baik, ramah, bahkan terlalu pengertian ,tetapi bawahannya justru santai?
Sebaliknya, ada pemimpin yang tegas, kadang terdengar galak, namun justru organisasinya berjalan rapi.
Pertanyaan itu mulai menemukan jawabannya ketika saya mendengar langsung gaya bicara Dedi Mulyadi dalam kanal YouTube Lembur Pakuan Channel, pada video berjudul “Sambil Duduk Lesehan KDM Ajak Pejabat Pemprov Kebut Pembangunan di Jabar.”

Dalam obrolan santai itu, ia mengatakan sesuatu yang sederhana namun menarik.
Kurang lebih begini pesannya:
orang Sunda cenderung santai jika pemimpinnya terlalu lembek. Tetapi jika pemimpinnya tegas, justru lebih mudah diarahkan.
Awalnya saya tertawa mendengarnya.
Namun semakin dipikirkan, semakin terasa ada benarnya.
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering melihat hal serupa.
Atasan yang terlalu “ngarti” kadang membuat pekerjaan molor. Semua merasa dimaklumi. Semua merasa bisa ditunda.

Sebaliknya, pemimpin yang tegas,yang jelas arah dan batasnya membuat orang bergerak.
Bukan semata karena takut.
Tetapi karena ada kepastian arah.
Yang menarik, Dedi Mulyadi tidak berhenti pada soal ketegasan.
Ia menambahkan bahwa pemimpin Sunda juga harus:
bisa heureuy (punya selera humor),
deukeut ka rakyat (dekat dengan masyarakat),
jeung daék mere (punya kemauan memberi).
Di situlah letak kuncinya.
Ini bukan “galak” yang dingin dan berjarak.
Ini ketegasan yang punya tujuan.
Galak pada sistem yang berantakan.
Galak pada pekerjaan yang asal-asalan.
Galak pada kebiasaan yang membuat kita tidak naik kelas.
Tetapi kepada rakyat?
Justru memberi.

Karena itu, terasa aneh jika ketegasan selalu dianggap kejam.
Dalam konteks kepemimpinan, ketegasan sering kali justru bentuk tanggung jawab.
Ada satu pepatah Sunda yang sangat relevan:
“Nu dipikanyaah téh sok dipapatahan, lain dibejaan wae.”
Artinya:
yang disayangi itu ditegur, bukan hanya dibiarkan.
Dan mungkin itulah yang sedang kita lihat hari ini.
Seorang pemimpin yang berani menegur, berani marah, bukan untuk menunjukkan kekuasaan ,melainkan untuk memastikan semuanya berjalan lebih baik.

Karena jujur saja, yang lebih berbahaya bukanlah pemimpin yang kadang membuat kita “deg-degan”.
Yang lebih berbahaya adalah pemimpin yang selalu terlihat baik… tetapi diam ketika sistem rusak.
Dari situ saya memahami satu hal sederhana:
Kadang yang kita butuhkan bukan pemimpin yang paling ramah.
Tetapi pemimpin yang paling bertanggung jawab.

Viral Post

Viral Post adalah media digital independen yang menyajikan informasi,berita,dan isu viral secara akurat dan bertanggung jawab. Kami meyakini bahwa rakyat sebagai pemilik kedaulatan tertinggi,ber hak untuk mengetahui fakta yang dapat mempengaruhi kehidupan mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *