Selama puluhan tahun, manusia mencari energi bersih di permukaan Bumi, namun selalu terjebak pada batas alam.

Matahari tidak bersinar sepanjang hari, cuaca tidak bisa dikendalikan, dan lahan menjadi rebutan antara industri, pangan, dan permukiman.

Ketika transisi energi di darat berjalan lambat, Jepang memilih jalur radikal: memindahkan pembangkit listrik ke luar angkasa.

Pada pertengahan dekade 2020-an, Badan Antariksa Jepang JAXA mulai menguji sistem pembangkit listrik tenaga surya berbasis orbit, sebuah konsep yang selama ini dianggap terlalu mahal dan terlalu futuristik.

Namun krisis energi global, tekanan iklim, dan stagnasi energi terbarukan di darat membuat ide ini kembali relevan.
Di orbit, matahari bersinar hampir tanpa henti. Tidak ada malam, tidak ada awan, dan tidak ada polusi.

Di awal 2026, lebih dari delapan puluh persen energi dunia masih berasal dari bahan bakar fosil.
Negara berkembang seperti Indonesia berada dalam posisi paling rentan: kebutuhan listrik terus naik, sementara ketergantungan pada batu bara menciptakan beban lingkungan dan ekonomi jangka panjang.

Energi surya dari luar angkasa menawarkan janji yang belum pernah ada sebelumnya: pasokan listrik bersih, stabil, dan hampir tak terbatas.

Sistem ini bekerja dengan cara yang mengubah definisi pembangkit listrik. Panel surya raksasa ditempatkan di orbit geostasioner, mengumpulkan energi matahari sepanjang waktu.

Energi tersebut tidak dikirim melalui kabel, tetapi diubah menjadi gelombang mikro berdaya rendah dan diarahkan ke Bumi secara presisi.

Di darat, antena penerima mengonversinya kembali menjadi listrik yang siap masuk ke jaringan nasional.

Berbeda dengan imajinasi fiksi ilmiah, energi yang dikirim bukanlah sinar mematikan, melainkan gelombang dengan intensitas rendah yang dirancang aman bagi manusia, hewan, dan penerbangan.

Sistem pelacakan berbasis kecerdasan buatan memastikan beam tetap terkunci pada area penerima dan otomatis mati jika terjadi penyimpangan.

Perlombaan global pun dimulai. Jepang bergerak cepat melalui JAXA, China menyiapkan stasiun surya orbit skala besar sebelum 2030, sementara Amerika Serikat mengembangkan teknologi transmisi energi nirkabel melalui proyek riset universitas dan militer.

Apa yang dulu dianggap terlalu mahal kini mulai masuk hitungan, seiring biaya peluncuran roket turun drastis dan teknologi material semakin ringan.

Dampaknya berpotensi mengubah tatanan dunia. Negara yang selama ini bergantung pada impor energi dapat beralih ke pasokan listrik berbasis orbit.

Harga listrik global diprediksi turun signifikan, sementara emisi karbon dapat dipangkas jauh lebih cepat dibanding target transisi energi konvensional.

Bagi wilayah terpencil, dari pulau-pulau kecil hingga pedalaman Papua, energi dari langit dapat menghapus ketimpangan akses listrik yang bertahan puluhan tahun.

Namun, seperti semua teknologi revolusioner, risikonya tidak kecil. Biaya pembangunan satu stasiun surya orbit masih mencapai puluhan hingga ratusan miliar dolar.

Regulasi internasional belum sepenuhnya siap mengatur penggunaan spektrum gelombang mikro dari luar angkasa. Kekhawatiran lain muncul dari potensi penyalahgunaan teknologi ini sebagai alat geopolitik, mengingat sistem yang mampu mengirim energi juga berpotensi dimiliterisasi.

Menuju 2030, proyek percontohan skala menengah diprediksi mulai beroperasi di Asia. Indonesia diperkirakan menjadi salah satu kandidat lokasi penerima energi, mengingat wilayahnya yang luas dan tantangan distribusi listrik antar pulau.

Jika berhasil, energi matahari dari orbit bukan sekadar teknologi baru, tetapi fondasi sistem energi global generasi berikutnya.

Selama ini manusia menggali energi dari tanah dan laut. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, solusi krisis energi mungkin justru datang dari atas kepala kita.

Pertanyaannya bukan lagi apakah teknologi ini mungkin, tetapi apakah dunia siap mempercayakan masa depan listriknya kepada matahari yang dipanen dari langit.

By Viral Post

Viral Post adalah media digital independen yang menyajikan informasi,berita,dan isu viral secara akurat dan bertanggung jawab. Kami meyakini bahwa rakyat sebagai pemilik kedaulatan tertinggi,ber hak untuk mengetahui fakta yang dapat mempengaruhi kehidupan mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *