Deforestasi masih menjadi ancaman besar bagi lingkungan Indonesia hingga 2026. Data terbaru menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2024, deforestasi netto Indonesia mencapai sekitar 175.400 hektare.
Angka ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya dan menandakan tekanan serius terhadap hutan alam yang tersisa.
Saat ini, luas hutan Indonesia diperkirakan tinggal sekitar 95,5 juta hektare atau sekitar 51 persen dari total daratan. Penurunan tutupan hutan ini sebagian besar dipicu oleh ekspansi perkebunan, penebangan liar, pertambangan, serta pembangunan infrastruktur skala besar.
Dampak deforestasi tidak hanya berupa hilangnya pohon, tetapi juga kerusakan sistem kehidupan. Hutan berperan sebagai penyerap karbon alami.
Ketika hutan hilang, emisi karbon meningkat dan mempercepat perubahan iklim. Indonesia menjadi salah satu negara dengan kontribusi emisi dari sektor kehutanan yang signifikan.
Bagi manusia, deforestasi meningkatkan risiko banjir, longsor, kekeringan, serta krisis air bersih. Banyak wilayah yang dulunya aman kini menjadi rawan bencana akibat hilangnya fungsi ekologis hutan.
Hal yang perlu dihindari adalah pembukaan lahan dengan pembakaran serta kebijakan yang mengutamakan keuntungan jangka pendek.
Fakta yang jarang diketahui, pemulihan hutan tropis yang rusak bisa memakan waktu puluhan hingga ratusan tahun, jauh lebih lama dibandingkan waktu yang dibutuhkan untuk merusaknya.