Bantuan sosial sering dipresentasikan sebagai bukti kehadiran negara, tetapi dalam jangka panjang bansos justru menjadi tanda bahwa sistem ekonomi gagal menciptakan kemandirian.
Bansos memang meringankan beban sesaat, tetapi tidak mengubah posisi seseorang dalam struktur ekonomi.
Setelah bantuan habis, orang kembali ke titik awal dengan masalah yang sama.
Ketergantungan muncul bukan karena rakyat ingin, melainkan karena tidak tersedia jalur nyata untuk naik kelas. Upah stagnan, harga kebutuhan pokok terus naik, akses modal produktif terbatas, dan pendidikan berkualitas mahal.
Dalam kondisi seperti ini, bansos hanya menahan kejatuhan, bukan mendorong kemajuan.
Lebih berbahaya lagi, ketika bansos menjadi solusi utama, pemerintah cenderung fokus pada distribusi bantuan, bukan pada perbaikan struktur yang menyebabkan kemiskinan itu sendiri.
Produktivitas tidak naik, lapangan kerja bernilai tambah rendah, dan kesenjangan tetap melebar.
Negara terlihat sibuk membantu, tetapi akar masalah dibiarkan.
Kemiskinan akhirnya diwariskan, bukan diakhiri. Selama kebijakan lebih menekankan bantuan daripada penciptaan sistem upah layak, pendidikan terjangkau, dan akses usaha yang adil, bansos akan terus dibutuhkan.
Bukan karena rakyat gagal berusaha, tetapi karena sistem tidak memberi mereka kesempatan nyata untuk naik kelas.