Kata amanah bukan istilah psikologi, tapi istilah syar’i.
Allah ﷻ berfirman:
“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, tetapi semuanya enggan memikulnya… dan dipikullah amanah itu oleh manusia.”
(QS. Al-Ahzab: 72)
Penjelasan Ulama Salaf
Ibn Katsir رحمه الله menjelaskan:
“Amanah adalah seluruh beban ketaatan dan tanggung jawab yang Allah titipkan.”
Anak termasuk amanah, karena:
Dititipkan Allah
Bukan milik mutlak orang tua
Akan dimintai pertanggungjawaban
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
- Orang tua = pemimpin
- Anak = yang dipimpin
APA YANG DIMAKSUD “BUKAN PROYEK”?
Di zaman sekarang, anak sering tidak disadari dijadikan:
- Target prestasi
- Alat pembuktian diri
- Pelampiasan mimpi orang tua
Contoh halus tapi berbahaya:
“Ibu dulu nggak bisa kuliah, kamu harus!”
“Pokoknya kamu harus jadi dokter”
“Anak ibu harus beda dari anak orang lain”
Ini bukan niat jahat, tapi bisa salah arah.
Kata Ulama Salaf
Hasan Al-Bashri رحمه الله berkata:
“Celaka orang tua yang membantu anaknya menuju kebinasaan.”
Para sahabat bertanya:
“Bagaimana bisa?”
Beliau menjawab:
“Dengan tidak mengajarkan agama dan membiarkannya tumbuh tanpa adab.”
- Jadi yang ditakutkan Salaf bukan anak gagal dunia,
- tapi anak rusak agama dan jiwanya.
- BEDAKAN: NIAT MENDIDIK vs AMBISI PRIBADI
Niat Mendidik (yang benar):
- Agar anak mengenal Allah
- Berakhlak baik
- Selamat dunia & akhirat
Ambisi Pribadi (yang perlu dikoreksi):
- Takut omongan orang
- Takut anak “kalah”
- Takut dianggap orang tua gagal
Ibn Qayyim رحمه الله berkata:
“Banyak orang tua yang mencelakakan anaknya karena ambisi, bukan karena kebodohan.”
Ini kalimat sangat keras, tapi sangat nyata.
DALIL UTAMA:
ANAK SEBAGAI UJIAN, BUKAN KEBANGGAAN
Allah ﷻ berfirman:
“Sesungguhnya harta dan anak-anak kalian hanyalah cobaan.”
(QS. At-Taghabun: 15)
Tafsir Salaf
Ibn Abbas رضي الله عنه berkata:
“Ujian itu bisa berupa rasa cinta berlebihan hingga melalaikan ketaatan.”
- Bukan berarti tidak boleh sayang anak
- Tapi jangan sampai cinta itu membutakan
- ISTILAH PENTING DALAM MANHAJ SALAF
🔹 Amanah
Titipan Allah, bukan milik mutlak
🔹 Tarbiyah
Bukan sekadar mendidik akademik, tapi:
Membina iman
Menumbuhkan akhlak
Menjaga jiwa
🔹 Fitrah
Kesiapan menerima tauhid
(Bukan anak “netral tanpa arah”)
🔹 Adab
Sikap batin dan lahir yang sesuai syariat
(Bukan sekadar sopan santun)
🔹 Mas’uliyyah
Tanggung jawab yang akan ditanya di akhirat
KESALAHAN UMUM ORANG TUA (YANG DIKRITIK SALAF)
Para Salaf tidak menutup mata terhadap kesalahan orang tua.
Kesalahan yang sering terjadi:
- Fokus nilai, lupa akhlak
- Mengejar prestasi, lalai iman
- Anak ditekan, orang tua bangga
Ibn Qayyim رحمه الله berkata:
“Jika engkau melihat kerusakan anak, lihatlah pendidikan orang tuanya.”
Kalimat ini bukan untuk menyalahkan,
tapi mengajak muhasabah.
DAMPAK PSIKOLOGIS JIKA ANAK DIJADIKAN “PROYEK”
Secara psikologi (yang sejalan dengan Islam):
- Anak tumbuh penuh tekanan
- Takut gagal
- Sulit jujur
Cinta orang tua bersyarat
Ini bertentangan dengan rahmah yang diajarkan Nabi ﷺ.
CONTOH PENERAPAN UNTUK IBU-IBU (PRAKTIS)
Jangan:
“Pokoknya kamu harus begini!” Ganti dengan:
“Ibu doakan kamu jadi anak saleh, soal hasil kita usaha bareng.” Jangan:
“Malu ibu sama tetangga!” Ganti dengan:
“Yang penting Allah ridha dulu.”
TARGET SALAF DALAM MENDIDIK ANAK
Target Salaf bukan anak sempurna, tapi:
- Mengenal Allah
- Tahu halal-haram
- Berakhlak baik
- Jiwanya selamat
Hasan Al-Bashri رحمه الله berkata:
“Mendidik anak saleh lebih aku cintai daripada dunia dan isinya.”
PENUTUP (UNTUK MAJELIS IBU-IBU)
Ibu-ibu yang Allah muliakan,
Anak kita bukan proyek lomba,
tapi amanah menuju akhirat.
Tidak harus:
Ranking satu
Juara ini itu
Yang penting:
Hatinya hidup
Akhlaknya baik
Tidak jauh dari Allah
REFERENSI SALAF (DIREKOMENDASIKAN)
Kitab klasik:
Tuhfatul Maudud – Ibn Qayyim
Madarijus Salikin – Ibn Qayyim
Jami’ Ulum wal Hikam – Ibn Rajab
Al-Adab Al-Mufrad – Imam Bukhari
Kitab tarbiyah:
Tarbiyatul Aulad fil Islam – Abdullah Nashih Ulwan
Manhaj Tarbiyah Nabawiyah – Abdurrazzaq Al-Badr