Jakarta — Di tengah perdebatan masyarakat tentang perburuan satwa liar, satu fakta penting sering terlewatkan: biawak (Varanus salvator) bukanlah hama ,melainkan pilar penting dalam keseimbangan ekosistem. Tanpa pemahaman ilmu yang matang, pemburuan biawak justru bisa mendorong risiko yang lebih besar bagi manusia dan lingkungan.
Biawak: Predator, Pemulung, dan Penjaga Alam
Biawak air, dengan nama ilmiah Varanus salvator, adalah reptil besar yang hidup di sungai, rawa, dan dataran rendah Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Satwa ini memiliki peran yang sangat beragam:
Predator oportunistik yang mengendalikan populasi hewan kecil seperti tikus, invertebrata, hingga reptil lain. Pemakan bangkai (scavenger) yang membantu menghancurkan dan mendaur ulang materi organik,sebuah fungsi alami penting untuk mencegah penyakit dan menjaga kebersihan lingkungan.
Bagian dari rantai makanan yang kompleks, membantu stabilisasi populasi berbagai spesies mangsa dan predator.
Penelitian ilmiah bahkan menunjukkan bahwa monitor lizards (biawak) berperan sebagai “ecosystem engineers”,organisme yang berkontribusi langsung terhadap struktur dan fungsi lingkungan tempat mereka hidup.
Memakan Ular: Bukan Mitos, Tetapi Fakta Ekologis
Salah satu fungsi alamiah biawak yang jarang dipahami publik adalah sebagai predator alami ular, termasuk ular yang berisiko tinggi bagi manusia. Dalam berbagai laporan ilmiah dan artikel jurnal, biawak disebut sebagai salah satu predator penting bagi anak ular kobra dan ular lain di habitatnya.
Ini sejalan dengan pengamatan di lapangan bahwa satwa ini memangsa berbagai hewan kecil hingga sedang, termasuk ular, burung, tikus, ikan, dan bangkai ,menjadikan mereka aktor ekologis yang membantu menekan prevalensi hewan yang berpotensi berbahaya atau membawa penyakit.
Bahaya Jika Biawak Dipandang Musuh
Ironisnya, kebiasaan mereka memangsa ular, tikus, dan bangkai justru sering disalahartikan sebagian masyarakat sebagai “ancaman”. Akibatnya, perburuan terhadap biawak kembali marak di beberapa daerah. Padahal, penelitian sosial-ekologi menunjukkan bahwa perburuan terus menerus dapat mengancam populasi alami biawak dan mengganggu keseimbangan ekosistem sungai dan rawa.
Penurunan populasi predator alamiah ini tidak hanya meningkatkan kemungkinan ledakan populasi mangsa seperti tikus dan ular, tetapi juga meningkatkan konflik manusia–satwa liar, memperbesar risiko gigitan ular dan penyebaran penyakit terkait hama.
Realitas Perdagangan dan Eksploitasi Global
Indonesia saat ini menjadi salah satu eksportir utama kulit biawak di dunia, dengan puluhan ribu ekor yang dialokasikan untuk industri kulit setiap tahunnya. Walaupun legal di bawah konvensi internasional CITES Appendix II, para pakar konservasi mengingatkan bahwa eksploitasi besar-besaran berpotensi mengganggu stabilitas ekosistem lokal jika tidak diatur berdasarkan kajian ilmiah yang ketat.
Profesor lingkungan terkemuka menegaskan bahwa biawak bukan hanya sumber ekonomi, tetapi juga pengendali hama alami dan pembersih lingkungan. Ketika populasinya menurun drastis, hewan-hewan kecil yang semula dikendalikan bisa berkembang pesat dan meninggalkan jejak destruktif dalam sistem ekologis.
Epik Alam: Rantai Makanan, Bukan Pembasmian Sepihak
Alam bekerja melalui rantai makanan yang kompleks, bukan melalui pembasmian sepihak terhadap satu spesies. Predator seperti biawak memainkan peran ganda ,sebagai pengendali populasi mangsa sekaligus sebagai tulang punggung interaksi ekologis yang menjaga kawasan hutan bakau, sungai, dan rawa tetap sehat.
Dalam konteks ini, melindungi biawak berarti melindungi manusia secara tidak langsung dari ledakan hama, risiko ular berbisa, dan gangguan lingkungan yang lebih luas.
Kesimpulan:
Perburuan biawak bukan hanya permasalahan moral atau budaya ,ini adalah ancaman nyata terhadap keseimbangan ekosistem dan kesehatan masyarakat. Alih-alih memburu, publik dan pembuat kebijakan harus mendorong pendekatan ilmu pengetahuan untuk konservasi, pengelolaan habitat, dan edukasi publik agar satwa ini dipahami sebagai sekutu ekologis, bukan musuh.