Kelas menengah di Indonesia tidak runtuh karena satu krisis besar. Ia dikikis perlahan, hari demi hari, seperti besi yang berkarat bukan karena pukulan, tetapi karena tetesan air yang tak pernah berhenti. Tidak dramatis, tidak meledak, tapi pasti.

Secara kasat mata, kelas menengah terlihat baik-baik saja. Masih bekerja, masih konsumsi, masih bergerak. Namun jika dilihat lebih dalam, fondasinya rapuh.

Pendapatan naik tipis, sementara pengeluaran naik konsisten. Selisihnya ditutup bukan oleh tabungan, tetapi oleh pengorbanan masa depan.

Data kasar menunjukkan kenaikan pendapatan kelas menengah berada di kisaran tiga sampai empat persen per tahun. Pada saat yang sama, biaya hidup di kota-kota besar naik tujuh sampai sembilan persen.

Artinya, setiap tahun kelas menengah mengalami penurunan daya beli riil, meski secara nominal terlihat meningkat. Ini bukan kemunduran mendadak.
Ini erosi struktural.

Kelas menengah juga menanggung beban ganda. Mereka tidak cukup miskin untuk mendapat bantuan sosial, tetapi cukup “mampu” untuk dijadikan sasaran pajak dan kenaikan tarif. Subsidi dipangkas atas nama efisiensi, sementara kewajiban terus bertambah. Pendidikan, kesehatan, transportasi, hingga hunian dibayar dengan biaya pasar.
Negara berhemat dengan cara memindahkan risiko ke pundak kelas menengah.

Yang paling berbahaya, kelas menengah kehilangan bantalan pengaman. Lebih dari separuh rumah tangga kelas menengah tidak memiliki dana darurat yang cukup untuk menutup enam bulan pengeluaran. Satu sakit serius, satu PHK, satu krisis kecil, cukup untuk mendorong mereka turun kelas. Mobilitas sosial tidak lagi naik, tapi menurun.

Bandingkan dengan negara industri Asia Timur. Kelas menengah dilindungi oleh industri kuat, upah produktif, dan layanan publik yang terjangkau.

Di Indonesia, kelas menengah justru dijadikan penopang fiskal tanpa perlindungan sepadan. Mereka membiayai negara, tetapi tidak diamankan oleh negara.

Inilah paradoks paling sunyi dalam ekonomi modern. Kelas menengah tetap bekerja, tetap patuh, tetap berkontribusi, sambil perlahan kehilangan pijakan.

Ketika kelas menengah melemah, konsumsi melambat, stabilitas goyah, dan ketimpangan mengeras.

Negara sering baru sadar saat mesin ini benar-benar macet.
Jika kelas menengah adalah mesin ekonomi, maka Indonesia sedang mengoperasikannya tanpa oli, sambil berharap mesin itu tidak panas. Harapan seperti itu bukan kebijakan. Itu perjudian.

By Viral Post

Viral Post adalah media digital independen yang menyajikan informasi,berita,dan isu viral secara akurat dan bertanggung jawab. Kami meyakini bahwa rakyat sebagai pemilik kedaulatan tertinggi,ber hak untuk mengetahui fakta yang dapat mempengaruhi kehidupan mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *