Ekonomi sering dipuji karena konsumsi rumah tangga masih kuat. Angka penjualan bergerak, pusat belanja ramai, transaksi digital meningkat. Dari luar, semuanya tampak normal.
Namun stabilitas ini menyimpan pertanyaan yang jarang diajukan. Dengan cara apa konsumsi itu dipertahankan.
Jawabannya sederhana tapi tidak nyaman. Konsumsi bertahan bukan karena pendapatan melonjak, melainkan karena masa depan digadai.
Tabungan menipis, cicilan bertambah, dan utang konsumtif naik perlahan. Rumah tangga bertahan hari ini dengan mengorbankan ruang napas esok hari.
Proporsi pendapatan yang habis untuk kebutuhan pokok terus membesar. Sisa yang kecil dipaksa menutup banyak hal.
Pendidikan anak, kesehatan, transportasi, dan cicilan. Ketika pendapatan stagnan dan biaya naik, pilihan yang tersedia hanya dua. Mengurangi kualitas hidup atau menambah utang. Banyak rumah tangga memilih opsi kedua tanpa sadar konsekuensinya.
Sistem keuangan mendukung pola ini. Kredit mudah, bunga terlihat ringan di awal, tenor diperpanjang. Konsumsi dijaga agar ekonomi tetap bergerak.
Namun risiko dipindahkan ke rumah tangga. Ketika guncangan datang, beban tidak lagi tersebar. Ia menumpuk di level paling rentan.
Inilah yang disebut stabilitas semu. Ekonomi terlihat hidup karena uang terus berputar, tetapi fondasinya rapuh.
Konsumsi yang sehat ditopang oleh pendapatan produktif dan tabungan. Konsumsi yang rapuh ditopang oleh utang dan penundaan masalah.
Jika pola ini dibiarkan, krisis tidak datang dalam bentuk ledakan besar. Ia datang sebagai kelelahan kolektif.
Rumah tangga yang kehabisan bantalan, kelas menengah yang turun kelas, dan ekonomi yang kehilangan mesin utamanya secara perlahan.
Konsumsi yang dipertahankan dengan menggadaikan masa depan bukan tanda kekuatan. Ia adalah sinyal peringatan yang sering disalahartikan sebagai keberhasilan