Utang sering dijadikan kambing hitam setiap kali ekonomi terasa sesak. Padahal utang itu sendiri netral. Ia bisa menjadi alat percepatan, atau menjadi pemberat.

Perbedaannya terletak pada satu hal. Apakah sebuah negara mandiri secara struktur, atau hanya bertahan dengan tambalan.

Dalam ekonomi yang sehat, utang dipakai untuk membangun kapasitas produktif. Infrastruktur yang menghubungkan industri. Pendidikan yang menciptakan keahlian bernilai tinggi.

Riset yang melahirkan inovasi. Di situ utang bekerja sebagai pengungkit masa depan. Masalah muncul ketika utang dipakai untuk menutup lubang struktural yang tidak pernah diperbaiki.

Di Indonesia, tekanan fiskal muncul bukan karena rasio utang semata, tetapi karena ruang fiskal sempit. Penerimaan negara sangat bergantung pada konsumsi dan komoditas.

Ketika harga global turun atau konsumsi melemah, anggaran langsung tertekan. Utang kemudian menjadi alat bertahan, bukan alat transformasi.

Beban bunga menyerap porsi belanja yang semakin besar. Setiap rupiah yang dipakai membayar bunga adalah rupiah yang tidak dipakai untuk pendidikan, kesehatan, atau perlindungan sosial. Ini bukan persoalan moral. Ini aritmatika. Pilihan fiskal selalu berarti mengorbankan sesuatu.

Yang membuat situasi ini berbahaya adalah ketergantungan pada kondisi eksternal. Suku bunga global, sentimen investor, nilai tukar. Semua berada di luar kendali nasional.

Negara yang tidak mandiri secara ekonomi selalu berada dalam posisi reaktif. Kebijakan dibuat untuk menenangkan pasar, bukan melayani kebutuhan jangka panjang.

Utang menjadi masalah ketika ia bertemu dengan ekonomi yang tidak berdaulat. Selama struktur ekonomi bergantung pada faktor luar, setiap guncangan kecil akan terasa besar.
Dan semakin lama penyesuaian ditunda, semakin mahal biaya yang harus dibayar.

Utang bukan musuh. Tetapi membangun negara tanpa kemandirian ekonomi sambil berharap utang tidak menjadi masalah adalah ilusi paling berbahaya dalam kebijakan publik.

By Viral Post

Viral Post adalah media digital independen yang menyajikan informasi,berita,dan isu viral secara akurat dan bertanggung jawab. Kami meyakini bahwa rakyat sebagai pemilik kedaulatan tertinggi,ber hak untuk mengetahui fakta yang dapat mempengaruhi kehidupan mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *