Media modern tidak hanya menjual berita, tapi menjual perhatian. Waktu baca, durasi tonton, dan interaksi adalah komoditas utama.
Dalam ekonomi perhatian, emosi adalah alat paling efektif. Ketakutan membuat orang bertahan. Kemarahan membuat orang kembali. Konten datar ditinggalkan.
Inilah alasan mengapa konflik diperbesar dan nuansa dipersempit. Kompleksitas tidak laku. Kesederhanaan emosional jauh lebih menguntungkan.
Publik jarang menyadari bahwa emosinya sedang dieksploitasi. Mereka merasa bereaksi secara alami, padahal sedang diarahkan oleh desain konten.
Ketika emosi menjadi bahan bakar utama media, ruang untuk refleksi dan kedalaman semakin sempit. Publik sibuk merasa, tapi lupa memahami.