Publik tidak sepenuhnya tak berdaya. Masih ada satu senjata yang sulit dikendalikan: kesadaran. Namun senjata ini jarang digunakan karena butuh usaha.
Kesadaran media berarti memahami cara kerja berita, narasi, dan emosi. Bukan untuk membenci media, tapi untuk tidak menelannya mentah-mentah.
Publik yang sadar akan bertanya sebelum bereaksi. Mengamati pola, bukan hanya judul. Membandingkan sumber, bukan sekadar mengikuti arus.
Kesadaran ini tidak lahir dari satu artikel atau satu video. Ia tumbuh dari kebiasaan berpikir kritis. Dari keberanian untuk diam sejenak sebelum ikut ribut.
Jika publik kehilangan kesadaran media, maka opini akan terus digerakkan dari luar. Tapi jika kesadaran itu hidup, media tidak lagi menjadi alat kendali, melainkan ruang dialog yang sehat.