Ketua Aliansi Wartawan Nasional Indonesia (AWNI) DPW Provinsi Jambi)
Di negeri yang kaya sumber daya tapi miskin kesadaran, literasi sering berhenti sebagai seremoni. Spanduk, lomba baca puisi, panggung buku , semuanya ramai, tapi rakyat tetap lapar, pengangguran tetap tinggi, dan kemiskinan seolah diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Padahal, literasi sejati adalah perlawanan terhadap kemiskinan. Ia bukan sekadar membaca huruf, tapi membaca kehidupan. Ia bukan sekadar menulis kata, tapi menulis jalan keluar. Literasi bukan hiasan agenda pemerintah, melainkan jantung perubahan sosial yang sesungguhnya.
Literasi yang Hidup, Bukan yang Dihidupkan
Seorang tukang ojek yang menolak bantuan sosial karena merasa masih mampu bekerja ,itu contoh literasi hidup. Ia paham bahwa harga diri tak bisa diganti sembako. Ia mungkin tak hafal teori, tapi ia memiliki pemahaman mendalam tentang makna kerja, martabat, dan kemandirian.
Inilah literasi yang sejati: kesadaran untuk berdiri di atas kaki sendiri. “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah,” sabda Nabi Muhammad SAW , kalimat sederhana tapi menggetarkan, yang seharusnya menjadi prinsip kebijakan ekonomi bangsa.
Kemiskinan yang Sesungguhnya: Kemiskinan Pikiran
Banyak yang berpikir kemiskinan hanya soal harta. Padahal yang paling berbahaya adalah kemiskinan mental dan kultural ,ketika masyarakat merasa tidak mampu, pasrah, dan bergantung selamanya.
Kemiskinan seperti ini tidak bisa diselesaikan dengan bantuan tunai atau paket sembako. Ia hanya bisa disembuhkan dengan pengetahuan, keberanian, dan kepercayaan diri. Dan di situlah literasi berperan: mengubah tangan yang dulu meminta menjadi tangan yang memberi.
Literasi Sebagai Jalan Perlawanan
Literasi adalah revolusi yang sunyi. Tidak menabrak, tapi menyalakan. Tidak berteriak, tapi menggugah kesadaran. Ia mengajarkan rakyat berpikir kritis, mencari solusi, dan menemukan martabat melalui pengetahuan. Masyarakat literat tidak menunggu kesempatan,mereka menciptakannya.
Ketika seorang ibu rumah tangga membaca tentang olahan pangan lokal lalu menjadikannya usaha kecil, di situlah literasi bekerja. Ketika seorang pemuda desa belajar digital marketing lalu menjual produk kampungnya ke pasar global, di situlah literasi menembus batas. Itulah revolusi tanpa senjata revolusi yang menumbuhkan harapan dan kemerdekaan ekonomi.
Literasi dan Pemerintah Daerah: Bukan Slogan, Tapi Sistem
Pemerintah daerah harus berhenti memperlakukan literasi sebagai proyek seremonial. Perlu keberanian membangun ekosistem literasi: perpustakaan hidup, ruang baca publik, komunitas kreatif, dan integrasi literasi digital dengan program pemberdayaan ekonomi.
Literasi harus hadir dalam kebijakan, bukan sekadar dalam brosur. Harus dihidupkan di pasar, di sekolah, di masjid, di rumah, dan di media. Karena masyarakat yang tidak membaca akan selalu ditipu, dan bangsa yang tidak menulis akan selalu dilupakan.
Pers dan Literasi: Pilar Keempat yang Menyala
Di tengah kebisingan dunia digital, pers harus menjadi mercusuar literasi. Bukan sekadar penyampai berita, tapi penggerak kesadaran rakyat. Wartawan sejati tidak hanya menulis fakta, tapi menyalakan cahaya kebenaran di tengah gelapnya kebodohan dan kemiskinan struktural.
Aliansi Wartawan Nasional Indonesia (AWNI) berdiri di garis itu , garis perlawanan intelektual. Bahwa jurnalisme bukan sekadar profesi, melainkan panggilan suci untuk membebaskan pikiran rakyat dari penindasan informasi dan kemiskinan mental.
Bangkit di Tengah Tantangan Ekonomi Global
Dalam menghadapi tantangan ekonomi global, di tengah ketidakpastian perang dagang dan kerasnya arus pasar bebas, mari kita gaungkan semangat kemandirian nasional. Setiap insan perlu menumbuhkan kepercayaan diri, daya juang, dan jiwa yang tangguh, agar tidak mudah goyah oleh guncangan dunia.
Literasi di sinilah menemukan maknanya yang paling dalam ,membentuk manusia yang kuat tapi tetap beradab, modern tapi tetap bermoral, mandiri tapi tidak kehilangan jati diri bangsa.
Literasi adalah nyawa dari kedaulatan rakyat. Bangsa ini tidak akan pernah benar-benar merdeka sebelum rakyatnya berpikir bebas dan berpengetahuan luas. Kemiskinan hanya bisa dihancurkan dengan keberanian membaca, berpikir, dan bertindak.
Maka, jangan biarkan literasi berhenti di panggung seremoni. Biarkan ia tumbuh menjadi gerakan perlawanan, menjadi kesadaran kolektif, menjadi jalan rakyat kecil menuju kemuliaan.
Rizkan Al Mubarrok
Ketua Aliansi Wartawan Nasional Indonesia (AWNI) DPW Provinsi Jambi