Banyak pekerja di negara berkembang bekerja lebih lama dengan perlindungan lebih minim dibanding pekerja di negara maju, tetapi hasil akhirnya sangat berbeda.
Masalahnya bukan etos kerja, melainkan nilai kerja itu sendiri. Di negara maju, produktivitas dihargai dengan upah layak, jaminan sosial, dan akses aset.
Di sini, kerja keras sering hanya cukup untuk bertahan hidup.
Nilai tambah ekonomi terkonsentrasi di hulu dan pemilik modal, sementara pekerja berada di hilir dengan daya tawar rendah.
Biaya hidup naik, tetapi upah tertahan. Kerja keras akhirnya menjadi rutinitas tanpa akumulasi.
Selama struktur ekonomi tidak mengaitkan kerja dengan kepemilikan dan perlindungan, maka kerja keras hanya akan menjadi cerita heroik tanpa hasil nyata.