Konflik Ukraina tidak muncul secara tiba-tiba pada 2022. Akar gesekannya terbentuk sejak runtuhnya Uni Soviet, ketika Ukraina berada di persimpangan antara orientasi Barat dan hubungan historis dengan Rusia.
Perluasan NATO ke Eropa Timur dipandang Rusia sebagai ancaman strategis langsung terhadap wilayah penyangga keamanannya.
Bagi Amerika Serikat dan sekutunya, dukungan terhadap Ukraina dilandasi prinsip kedaulatan negara dan stabilitas Eropa.
Bagi Rusia, konflik ini berkaitan dengan pengaruh regional, akses strategis, dan persepsi dikepung oleh aliansi militer Barat.
Benturan kepentingan ini menjadikan Ukraina arena konflik tidak langsung antara kekuatan besar.
Perang Ukraina menampilkan karakter perang modern. Drone, sistem senjata presisi, dan intelijen real-time memainkan peran sentral.
Perang tidak hanya terjadi di medan tempur, tetapi juga dalam bentuk sanksi ekonomi, perang energi, dan tekanan diplomatik.
Dampak konflik meluas jauh melampaui wilayah Ukraina. Pasokan energi Eropa terganggu, harga pangan global meningkat, dan peta aliansi internasional semakin terpolarisasi.
Negara-negara dipaksa menyesuaikan kebijakan luar negeri mereka di tengah tekanan ekonomi dan politik.