Agustus 28, 2026

Karhutla Meluas di Tengah Musim Kemarau 2026, BNPB Laporkan Kebakaran Lahan dari Aceh hingga Sulawesi

0
IMG-20260720-WA0067

JAKARTA — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali terjadi di sejumlah wilayah Indonesia di tengah meningkatnya risiko kebakaran selama musim kemarau. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan sejumlah kejadian karhutla yang tersebar di wilayah Sumatra, Jawa, Kalimantan, hingga Sulawesi pada periode 18–20 Juli 2026.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena sebagian wilayah Indonesia mulai menghadapi periode cuaca yang lebih kering. Dalam situasi seperti ini, kebakaran lahan berpotensi meluas dengan cepat, terutama apabila terjadi di kawasan yang memiliki vegetasi kering dan sulit dijangkau oleh tim pemadam.

Di Aceh, karhutla dilaporkan terjadi di Kampung Kuyun Uken, Kecamatan Celala, Kabupaten Aceh Tengah, pada Minggu (19/7/2026). Kebakaran menghanguskan sekitar 1 hektare lahan. Api berhasil dipadamkan dan tidak terdapat laporan korban jiwa.

Kebakaran lahan juga dilaporkan terjadi di wilayah Aceh Barat dan Kabupaten Nagan Raya. Di Nagan Raya, luas lahan HGU yang terdampak kebakaran dilaporkan mencapai sekitar 40 hektare dan proses penanganan masih dilakukan. Salah satu dugaan penyebab kebakaran di wilayah Aceh berkaitan dengan aktivitas pembukaan atau pembersihan lahan menggunakan metode pembakaran.

Jambi Tingkatkan Kewaspadaan Karhutla

Di Provinsi Jambi, kebakaran lahan terjadi di Desa Batin, Kecamatan Bajubang, Kabupaten Batang Hari, pada Minggu (19/7) sekitar pukul 06.00 WIB. Luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai 2,5 hektare. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut dan api telah berhasil dikendalikan.

Sebagai langkah antisipasi, Komandan Korem 042/Garuda Putih Brigjen TNI Nyamin selaku Pelaksana Harian Dansatgas Karhutla Provinsi Jambi melaksanakan patroli udara di sejumlah wilayah yang dinilai rawan kebakaran.

Patroli tersebut dilakukan untuk memastikan kondisi lapangan sekaligus memantau efektivitas penanganan karhutla, termasuk pelaksanaan pemadaman melalui operasi water bombing apabila diperlukan. Pemantauan dari udara juga menjadi bagian penting untuk memastikan titik api yang telah ditangani tidak kembali menyala dan meluas ke wilayah lain.

Kebakaran Lahan Terjadi di Jawa Timur dan Kalimantan

Di Jawa Timur, kebakaran lahan terjadi di Desa Randegansari, Kecamatan Driyorejo, Kabupaten Gresik, pada Sabtu (18/7). Kebakaran yang terjadi di lahan kosong kawasan Perumahan Sentraland tersebut menghanguskan sekitar 3 hektare lahan.

BPBD Provinsi Jawa Timur bersama BPBD Kabupaten Gresik dan instansi terkait melakukan asesmen serta upaya pemadaman. Jawa Timur sendiri telah menetapkan Status Siaga Darurat Bencana Kekeringan dan Kebakaran Hutan dan Lahan yang berlaku sejak 26 Mei hingga 6 Oktober 2026.

Sementara itu, di Kalimantan Selatan, karhutla terjadi di Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Tanah Bumbu, pada Minggu (19/7). Luas lahan yang terdampak diperkirakan mencapai 5 hektare. Tim gabungan dari BPBD, pemadam kebakaran, unsur penyelamat, hingga pihak perusahaan dikerahkan untuk melakukan penanganan.

Hingga laporan tersebut disampaikan, sekitar 2 hektare area telah berhasil ditangani dan proses pemadaman masih terus dilakukan untuk mencegah api meluas.

Kebakaran yang lebih luas juga terjadi di Kota Samarinda, Kalimantan Timur. Karhutla dilaporkan melanda tiga kelurahan, yakni Harapan Baru di Kecamatan Loa Janan Ilir, Mugirejo di Kecamatan Sungai Pinang, serta Bukit Pinang di Kecamatan Samarinda Ulu.

Total luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai sekitar 35,2 hektare. Rinciannya sekitar 5 hektare di Kecamatan Loa Janan Ilir, 30 hektare di Kecamatan Sungai Pinang, dan 0,2 hektare di Kecamatan Samarinda Ulu.

BPBD Kota Samarinda bersama unsur pemadam kebakaran, relawan, dan pihak terkait terus melakukan pengecekan, asesmen, serta pemadaman. Tidak terdapat laporan korban jiwa dalam kejadian tersebut.

Sulawesi Selatan Turut Dilanda Karhutla

Di Sulawesi Selatan, kebakaran hutan dan lahan terjadi di Desa Atue, Kecamatan Malili, Kabupaten Luwu Timur, pada Minggu (19/7) sekitar pukul 18.00 WITA.

Kebakaran menghanguskan sekitar 1 hektare lahan. Tim gabungan yang terdiri dari BPBD, pemadam kebakaran, Manggala Agni, TNI, Polri, pemerintah daerah, serta masyarakat setempat bergerak melakukan pemadaman.

Api berhasil dipadamkan sekitar pukul 21.00 WITA dan kondisi di lokasi dinyatakan terkendali. Tidak terdapat laporan korban jiwa akibat kejadian tersebut.

BNPB juga mencatat sejumlah kejadian bencana lain dalam periode yang sama, termasuk banjir bandang di Kabupaten Agam, Sumatra Barat, serta konflik sosial di Kecamatan Adonara Timur, Nusa Tenggara Timur.

Banjir bandang di Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, dipicu oleh hujan berintensitas tinggi dan pendangkalan Sungai Batang Tumayo. Peristiwa tersebut berdampak terhadap sekitar 90 kepala keluarga atau sekitar 450 jiwa yang sempat mengungsi.

Sementara itu, konflik antar kelompok warga di Kecamatan Adonara Timur dilaporkan menyebabkan tiga orang meninggal dunia dan tujuh lainnya mengalami luka-luka.

Pencegahan Menjadi Kunci Hadapi Ancaman Karhutla

Meluasnya kejadian kebakaran lahan di sejumlah wilayah menjadi pengingat bahwa pencegahan harus dilakukan secara serius, terutama selama periode musim kemarau. Pemerintah daerah, aparat keamanan, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan perlu memperkuat pengawasan terhadap kawasan rawan kebakaran.

BNPB mengimbau masyarakat untuk tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Aktivitas pembakaran yang tidak terkendali dapat dengan cepat berubah menjadi bencana, terlebih ketika kondisi cuaca kering dan angin mendukung penyebaran api.

Masyarakat juga diminta segera melaporkan apabila menemukan titik api atau indikasi kebakaran kepada petugas terkait agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.

Karhutla bukan sekadar persoalan api yang membakar lahan. Dampaknya dapat meluas terhadap kualitas udara, kesehatan masyarakat, ekosistem, aktivitas ekonomi, hingga keselamatan warga. Karena itu, penguatan sistem deteksi dini, patroli rutin, kesiapsiagaan personel, serta kesadaran masyarakat menjadi bagian penting dalam mencegah bencana yang lebih besar.

Di tengah ancaman musim kemarau dan potensi cuaca ekstrem, kolaborasi seluruh pihak menjadi kunci. Setiap titik api yang berhasil dideteksi dan dipadamkan lebih awal bukan hanya menyelamatkan lahan, tetapi juga mencegah kerusakan lingkungan dan melindungi masyarakat dari dampak yang lebih luas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *