Putra Daerah Jambi: Kepemimpinan Jambi Harus dari Akar

VIRAL POST — Narasi tentang keberhasilan di perantauan selalu memiliki daya tarik kuat. Sejak lama, masyarakat Indonesia ,termasuk dari Jambi dikenal memiliki tradisi merantau: meninggalkan kampung halaman untuk mencari ilmu, pengalaman, dan keberhasilan di tempat lain. Kisah-kisah sukses tersebut kerap menjadi inspirasi publik.
Namun di balik romantisme itu, muncul pertanyaan mendasar: jika semua yang berhasil memilih membangun karier di luar daerah, siapa yang benar-benar berdiri di garis depan untuk membangun tanah kelahirannya sendiri?

Pertanyaan itulah yang menjadi inti pandangan Rizkan Al Mubarrok, seorang tokoh jurnalis dari Jambi yang menekankan pentingnya kepemimpinan daerah yang berakar kuat pada identitas lokal.
Menurutnya, kepemimpinan bukan sekadar simbol keberhasilan personal, melainkan amanah peradaban yang menuntut kedalaman pemahaman terhadap sejarah, budaya, dan dinamika sosial masyarakat yang dipimpin.

Ketika Kepemimpinan Menjadi Simbol, Bukan Tanggung Jawab
Dalam pandangan Rizkan, salah satu tantangan besar dalam politik daerah saat ini adalah reduksi makna kepemimpinan menjadi sekadar simbol kekuasaan.
Di berbagai daerah, jabatan kepala daerah sering kali dipandang sebagai puncak karier politik, bukan sebagai amanah pengabdian publik. Akibatnya, kualitas pembangunan kerap dipertanyakan.
Di Jambi sendiri, berbagai persoalan pembangunan masih menjadi perhatian publik, mulai dari infrastruktur yang belum optimal hingga sejumlah temuan audit terkait tata kelola perizinan pada masa pemerintahan sebelumnya yang dipimpin oleh pasangan Syarif Fasha dan Maulana.

Temuan tersebut menambah daftar panjang tantangan tata kelola pemerintahan daerah yang membutuhkan kepemimpinan dengan integritas kuat dan keberpihakan nyata kepada rakyat.
“Pemimpin daerah bukan pengusaha yang memperluas cabang usaha di wilayah baru. Mereka adalah penjaga amanah rakyat,” tegas Rizkan.
Ia menilai kekuasaan tidak boleh dipahami sebagai kesempatan untuk mengakumulasi kekayaan atau jaringan bisnis, melainkan sebagai alat untuk memperjuangkan kesejahteraan masyarakat.

Metafora “Hindia-Belanda”: Kritik terhadap Kepemimpinan Tanpa Akar
Dalam refleksinya, Rizkan menggunakan metafora “Hindia-Belanda” untuk menggambarkan pola kepemimpinan yang datang dari luar konteks sosial masyarakat lokal.
Istilah itu merujuk pada masa kolonial, ketika kekuasaan dijalankan oleh pihak yang tidak memiliki kedekatan historis maupun emosional dengan masyarakat yang dipimpin.

Menurutnya, risiko serupa bisa muncul kembali jika kepemimpinan daerah tidak berakar pada identitas lokal.
“Pemimpin yang tidak memahami denyut sosial dan budaya daerahnya akan kesulitan membaca kebutuhan masyarakat secara mendalam,” ujarnya.
Bagi Rizkan, putra daerah memiliki legitimasi moral yang lebih kuat, karena mereka tumbuh dalam realitas sosial yang sama dengan masyarakat yang dipimpin.

Pelajaran dari Solo hingga Jawa Barat

Argumentasi tentang pentingnya kepemimpinan lokal bukan tanpa contoh.
Di Kota Solo, misalnya, keberhasilan pembangunan kota sering dikaitkan dengan kepemimpinan Joko Widodo, yang memahami secara mendalam karakter sosial kota tersebut sebelum kemudian melanjutkan karier politiknya di tingkat nasional.
Estafet itu kemudian dilanjutkan oleh Gibran Rakabuming Raka, yang juga lahir dan besar dalam lingkungan sosial yang sama.
Di Jawa Barat, figur seperti Dedi Mulyadi menunjukkan bagaimana pendekatan berbasis budaya lokal dapat menciptakan transformasi sosial yang kuat.
Contoh-contoh tersebut menunjukkan satu pola penting: kepemimpinan yang efektif sering kali lahir dari pemahaman mendalam terhadap konteks lokal.

Kepemimpinan dari Akar: Antara Identitas dan Tanggung Jawab

Bagi Rizkan, gagasan bahwa daerah harus dipimpin oleh putra daerah bukanlah bentuk eksklusivitas politik.
Sebaliknya, hal itu merupakan tanggung jawab moral untuk menjaga kesinambungan sejarah, budaya, dan masa depan masyarakat lokal.
“Kepemimpinan sejati bukan hanya memimpin secara administratif, tetapi juga secara kultural,” katanya.
Artinya, seorang pemimpin tidak hanya mengelola anggaran dan birokrasi, tetapi juga menjadi penjaga identitas dan arah peradaban daerah.

Masa Depan Jambi: Antara Inspirasi dan Pengabdian

Inspirasi dari kisah sukses perantauan tentu tetap penting. Tradisi merantau telah melahirkan banyak tokoh besar Indonesia.
Namun menurut Rizkan, puncak tertinggi keberhasilan bukanlah sekadar mencapai kesuksesan pribadi di tempat lain, melainkan kembali dan membangun tanah kelahiran sendiri.
Jika daerah kehilangan generasi terbaiknya, risiko yang muncul bukan hanya stagnasi pembangunan, tetapi juga hilangnya kontinuitas budaya dan identitas lokal.

“Sejarah tidak mencatat siapa yang paling jauh pergi,” ujarnya.
“Sejarah mencatat siapa yang paling besar memberi arti bagi tanah kelahirannya.”
Bagi masyarakat Jambi, pesan tersebut menjadi refleksi penting tentang masa depan kepemimpinan daerah: apakah akan lahir dari akar masyarakat sendiri, atau kembali terjebak dalam pola kekuasaan yang jauh dari denyut rakyatnya.


Salam Perjuangan Militan Rakyat Jambi.

Viral Post

Viral Post adalah media digital independen yang menyajikan informasi,berita,dan isu viral secara akurat dan bertanggung jawab. Kami meyakini bahwa rakyat sebagai pemilik kedaulatan tertinggi,ber hak untuk mengetahui fakta yang dapat mempengaruhi kehidupan mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *