Viral Post — Polemik panjang mengenai keaslian ijazah Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo, memasuki babak baru. Pakar informatika Rismon Sianipar secara langsung mendatangi kediaman Jokowi di kawasan Sumber, Solo, Jawa Tengah, untuk menyampaikan klarifikasi sekaligus permintaan maaf atas polemik yang sempat mencuat ke publik.
Kunjungan tersebut dilakukan setelah Rismon menyelesaikan penelitian independen lanjutan terkait dokumen ijazah Jokowi yang sebelumnya menjadi perdebatan luas di ruang publik.
Dalam keterangannya kepada media, Rismon mengungkapkan bahwa riset yang ia lakukan selama sekitar dua bulan terakhir tidak menemukan indikasi manipulasi digital pada dokumen ijazah yang diterbitkan oleh Universitas Gadjah Mada tersebut.
Koreksi Metodologi Penelitian
Rismon juga secara terbuka mengakui adanya kekeliruan metodologi dalam analisis sebelumnya yang sempat ia tuangkan dalam bukunya Jokowi’s White Paper.
Menurutnya, penelitian terdahulu tidak memperhitungkan sejumlah variabel penting dalam analisis dokumen digital, seperti:
rotasi gambar
translasi posisi dokumen
arah dan intensitas pencahayaan
Faktor-faktor tersebut, kata Rismon, dapat memengaruhi interpretasi visual pada hasil pemindaian dokumen, sehingga berpotensi menimbulkan kesimpulan yang keliru.
“Dalam penelitian lanjutan yang kami lakukan, karakteristik dokumen seperti watermark dan emboss menunjukkan konsistensi dengan dokumen resmi pada periode tersebut,” ujarnya.
Klarifikasi Soal Hologram
Rismon juga meluruskan salah satu isu yang sebelumnya memicu perdebatan publik, yakni ketiadaan hologram pada ijazah Jokowi.
Berdasarkan riset pembanding terhadap arsip dokumen akademik era 1980-an di Universitas Gadjah Mada, ia menyebut bahwa pada masa tersebut sistem pengamanan ijazah memang belum menggunakan hologram.
Sebagai gantinya, dokumen resmi hanya dilengkapi watermark dan emboss sebagai tanda keaslian.
Pertemuan Hangat dan Pendekatan Kekeluargaan
Pertemuan antara Rismon dan Jokowi disebut berlangsung dalam suasana hangat dan bersahabat.
Didampingi tim kuasa hukumnya, Rismon membawa simbol perdamaian berupa kain ulos serta makanan adat Batak naniarsik, sebagai bentuk penghormatan sekaligus itikad baik dalam menyelesaikan polemik.
Menurut tim hukum Rismon, pertemuan tersebut merupakan bagian dari pendekatan restorative justice, yang menekankan penyelesaian masalah melalui dialog dan pemulihan hubungan secara kekeluargaan.
Tanggung Jawab Akademik
Rismon menegaskan bahwa perubahan sikapnya bukan didorong tekanan politik, melainkan bentuk tanggung jawab akademik dan moral kepada publik.
Ia menyadari langkah tersebut mungkin akan menuai kritik dari sebagian pihak, namun ia menilai klarifikasi ilmiah tetap harus disampaikan demi menjaga integritas penelitian.
Dengan pernyataan tersebut, polemik mengenai keaslian ijazah Jokowi yang sempat menjadi perdebatan panjang di ruang publik diharapkan dapat menemukan titik terang melalui pendekatan ilmiah, klarifikasi terbuka, serta penyelesaian yang mengedepankan dialog.