NASIONAL / INTERNASIONAL — Di balik citra filantropis dan jejaring elite globalnya, Jeffrey Epstein menyimpan obsesi yang jauh melampaui kejahatan seksual. Sejumlah laporan media internasional dan kesaksian orang-orang di lingkarannya mengungkap ketertarikan Epstein pada eugenika (pemuliaan ras) dan transhumanisme ,sebuah pandangan ekstrem yang memperlakukan manusia sebagai komoditas biologis yang dapat direkayasa.
Ambisinya, sebagaimana dilaporkan media arus utama, bukan sekadar mengumpulkan kekayaan atau pengaruh, melainkan mengubah genetika umat manusia. Ide paling mengerikan yang pernah ia sampaikan: menciptakan “ras manusia unggul” dengan menggunakan spermanya sendiri.
Zorro Ranch: “Peternakan Bayi” di Tengah Gurun
Epstein memiliki properti luas di New Mexico yang dikenal sebagai Zorro Ranch. Menurut laporan The New York Times, Epstein kerap memaparkan rencana kepada ilmuwan dan tamu bahwa ranch tersebut akan dijadikan tempat tinggal 20 perempuan terpilih yang akan dihamili secara bergantian.
Rencana itu, jika ditarik ke konteks sejarah, merefleksikan eugenika versi modern ,sebuah ideologi yang pernah menjadi dasar praktik kejahatan kemanusiaan abad ke-20. Dalam skema ini, Epstein menempatkan dirinya sebagai pusat “keunggulan genetik”, sebuah klaim yang lebih mencerminkan ego patologis ketimbang sains.
Science-Washing: Ketika Uang Membeli Legitimasi
Untuk menormalisasi obsesi gelapnya, Epstein melakukan apa yang oleh pengamat disebut sebagai science-washing: menggunakan donasi besar dan akses elite untuk membersihkan reputasi.
Ia menyumbang dana ke institusi prestisius seperti Harvard University dan MIT Media Lab, sekaligus mendekati figur-figur paling berpengaruh di dunia sains.
Sejumlah nama yang tercatat pernah berada dalam orbit sosial Epstein ,berdasarkan laporan media dan dokumen publik antara lain:
Stephen Hawking, fisikawan legendaris, yang pernah difoto menghadiri acara sains yang diselenggarakan Epstein.
Marvin Minsky, pionir kecerdasan buatan, yang namanya disebut dalam gugatan sipil salah satu korban (tuduhan yang menjadi bagian dari berkas perkara, bukan putusan pidana).
Joi Ito, mantan Direktur MIT Media Lab, yang mengundurkan diri setelah terungkap menerima dana dari Epstein.
Bill Gates, pendiri Microsoft, yang mengakui pernah bertemu Epstein setelah vonis 2008 dan kemudian menyebut pertemuan tersebut sebagai “kesalahan besar”.
Kehadiran nama-nama besar ini—terlepas dari konteks dan bantahan masing-masing—memberi Epstein tameng sosial yang efektif: kedekatan dengan para jenius membuatnya tampak sebagai donatur visioner, bukan predator.
Transhumanisme, Krionik, dan Ketakutan pada Kematian
Obsesi Epstein tidak berhenti pada reproduksi. Ia juga dilaporkan tertarik pada krionik (pembekuan tubuh) dan transhumanisme ,gagasan bahwa teknologi suatu hari dapat menaklukkan kematian. Beberapa laporan menyebutkan keinginannya untuk membekukan bagian tubuh tertentu setelah wafat, dengan harapan sains masa depan dapat “menghidupkannya kembali”.
Dalam kerangka ini, ketakutan terbesar Epstein bukanlah penjara, melainkan kematian. Hidup, baginya, adalah proyek teknologis; tubuh manusia hanyalah hardware yang dapat dimodifikasi.
Narsisisme pada Level Seluler
Rangkaian laporan ini menggambarkan pola pikir yang konsisten: dehumanisasi. Dalam dunia Epstein, perempuan dan anak-anak direduksi menjadi objek biologis; relasi manusia diganti logika eksperimen.
Obsesi sains ini membantu menjelaskan bagaimana Epstein bisa membenarkan kejahatannya sendiri. Dalam narasi eugenika yang bengkok, ia tidak melihat dirinya sebagai predator, melainkan “visioner” yang disalahpahami,sebuah bentuk narsisisme ekstrem hingga ke tingkat genetik.
Kasus Epstein bukan hanya skandal kriminal.
Ia adalah peringatan keras tentang bagaimana uang, kekuasaan, dan pseudo-sains
dapat menyatu menjadi mesin dehumanisasi
yang menghancurkan moral, korban, dan kebenaran.